PT. KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR

Category Archives: news

PT Kontak Perkasa Futures | Balkon Tower II BEI Ambruk, IHSG Naik 12,13 Poin

Balkon Tower II BEI Ambruk, IHSG Naik 12,13 PoinKontak Perkasa, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu berbalik ke zona hijau pada perdagangan saham Senin pekan ini. Penguatan IHSG itu terjadi di tengah insiden ambruknya balkon di tower II Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada penutupan perdagangan saham, Senin (15/1/2018), IHSG naik 12,13 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.382,19. Indeks saham LQ45 naik 0,14 persen ke posisi 1.084,08. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Ada 175 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sebanyak 168 saham melemah dan 133 saham diam di tempat. IHSG sempat berada di level tertinggi 6.390,88 dan terendah 6.361,61.

Total frekuensi perdagangan saham sektiar 295.344 kali dengan volume perdagangan 17,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,1 triliun. Transaksi saham cukup besar didorong adanya transaksi saham besar di pasar negosiasi, yaitu PT Medco Energi Internasional Tbk Rp 2,1 triliun.

Investor asing melakukan aksi beli Rp 2,31 triliun di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.326.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham melemah. Sektor saham tambang naik 1,53 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham keuangan menanjak 0,67 persen dan sektor saham konstruksi mendaki 0,61 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan terbesar, antara lain saham IKAI melonjak 13,68 persen ke posisi Rp 133, saham TRAM naik 5,98 persen ke posisi Rp 248 per saham, dan saham DGIK menanjak 5 persen ke posisi Rp 63.

Adapun saham-saham yang tertekan antara lain saham CMPP turun 10,27 persen ke posisi Rp 498, saham CAMP tergelincir 10,24 persen ke posisi Rp 745, dan saham IIKP susut 4,7 persen ke posisi Rp 284 per saham.

Bursa Asia sebagian besar menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 0,23 persen dan indeks saham Shanghai melemah 0,54 persen. Indeks saham Korea Selatan Kospi naik 0,29 persen, indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,26 persen, indeks saham Singapura menanjak 0,45 persen, dan indeks saham Taiwan naik 0,66 persen.

IHSG Naik di Awal Sesi Perdagangan

Sebelumnya, laju IHSG menghijau di awal pekan ini, mengikuti bursa Asia.

Pada pra-pembukaan perdagangan saham, pada Senin, 15 Januari 2018, IHSG naik 9 poin atau 0,14 persen ke posisi 6.379,07. Kemudian pada pukul 09.00 WIB, IHSG menguat 16,8 poin atau 0,27 persen ke posisi 6.386,95.

Sebagian besar indeks saham acuan menguat. Indeks saham LQ45 menguat 0,26 persen ke posisi 1.085,36.

Ada 90 saham menguat sehingga mendorong kenaikan IHSG. Sebanyak 15 saham melemah dan 92 saham diam di tempat. IHSG sempat berada di level tertinggi 6.388,96 dan terendah 6.376,36.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 4.394 kali dengan volume perdagangan 91,8 juta saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 57,4 miliar. Investor asing melakukan aksi beli Rp 1,22 miliar.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat. Sektor saham tambang memimpin penguatan IHSG dengan naik 0,62 persen. Diikuti sektor saham infrastruktur menguat 0,57 persen dan sektor saham perdagangan menanjak 0,37 persen. Adapun sektor yang melemah hanya perkebunan sebesar 0,11 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham HDTX naik 5,99 persen ke posisi Rp 354, saham PBID melonjak 4,40 persen ke posisi Rp 95, dan saham PSAB menanjak 4,49 persen ke posisi Rp 575 per saham.

Sementara itu, saham-saham yang tergelincir antara lain saham CAMP turun 6,02 persen ke posisi Rp 785, saham INCI merosot 3,35 persen ke posisi Rp 404, dan saham IIKP susut 2,68 persen ke posisi Rp 290 per saham.

PT Kontak Perkasa Futures | Bursa Asia Capai Level Tertinggi dalam Sejarah

Bursa Asia Capai Level Tertinggi dalam SejarahKontak Perkasa, Tokyo - Bursa Asia mencapai titik tertinggi bersejarahnya pada awal pekan ini, mengekor Wall Street yang memperpanjang rekor pada pekan kemarin.

Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tetap bertahan karena investor mengantisipasi risiko pengetatan kebijakan dari negara-negara di dunia.

Melansir laman Reuters, Senin (15/1/2018), indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,3 persen menjadi 591,66. Sementara indeks utama Australia menguat 0,5 persen, dan indeks Nikkei Jepang naik.

Pasar antara lain dipengaruhi investor yang optimistis bahwa data produk domestik bruto China yang keluar pada Kamis akan menunjukkan pertumbuhan setidaknya sebesar 6,7 ​​persen.

Kenaikan bursa Asia mengekor Wall yang pada akhir pekan lalu menguat, seiring keluarnya laporan pendapatan kuartal keempat dari perbankan dan penjualan ritel yang tercatat naik, mendorong optimisme investor mengenai pertumbuhan ekonomi di AS.

Dow menguat 2 persen pekan lalu, sementara Nasdaq naik 1,8 persen dan S & P 500 bertambah 1,6 persen. Indeks S & P 500 dan Nasdaq mencetak delapan rekor penutupan tertinggi dari sembilan hari perdagangan pertama pada 2018, sementara Dow membukukan penutupan tertinggi keenam tahun ini.

“Fokus konsesus perdagangan saat ini adalah dolar dan keuangan Eropa dan AS dan ini tetap menjadi fokus utama dalam minggu depan,” kata Chris Weston, kepala strategi pasar IG.

Wall Street Menguat pada Akhir Pekan

Wall Street menguat pada penutupan perdagangan di akhir pekan ini. Penguatan terpicu hasil solid pada laporan pendapatan kuartal keempat perbankan dan kenaikan penjualan ritel yang mendorong optimisme investor mengenai pertumbuhan ekonomi.

Melansir laman Reuters, indeks S & P 500 dan Nasdaq mencatat delapan rekor tertinggi dari sembilan hari perdagangan pertama pada 2018. Sementara Dow membukukan penutupan tertinggi keenam tahun ini.

Adapun indeks Dow Jones Industrial Average naik 228,46 poin atau 0,89 persen menjadi 25.803,19. Kemudian indeks S & P 500 menguat 18,68 poin atau 0,67 persen menjadi 2.786,24 dan Nasdaq Composite bertambah 49,29 poin atau 0,68 persen menjadi 7.261,06.

Untuk minggu ini, indeks S&P naik 1,6 persen, sementara Dow menguat 2 persen dan Nasdaq bertambah 1,8 persen.

Wall Sreet menguat antara lain terdorong saham perbankan. JPMorgan (JPM.N), pemberi pinjaman terbesar di AS, mengatakan perombakan pajak akan membantu keuntungan perusahaan pada masa depan seiring pengurangan tagihan pajak dan menstimulasi lebih banyak bisnis. Saham bank ini menguat naik 1,7 persen.

Investor juga memperkirakan hasil keuangan perusahaan pada tahun ini akan lebih tinggi dari mengalahkan perkiraan. Sebab, sebelumnya analis belum memprediksi adanya kebijakan pajak yang baru.

“Sepertinya ekonomi berjalan baik, inflasi agak tidak ada saat ini, pertumbuhan upah tidak menjadi masalah bagi sebagian besar laporan pendapatan,” ujar Stephen Massocca, Wakil Presiden Senior Wedbush Securities di San Francisco.

Saham yang mencatat kenaikan lainnya, milik BlackRock (BLK.N) yang menguat 3,3 persen. Manajer aset terbesar di dunia ini melaporkan keuntungan yang mengalahkan perkiraan.

Sementara pendapatan Wells Fargo (WFC.N) mengalahkan ekspektasi, sehingga sahamnya tergelincir 0,7 persen.

Adapun di sektor riil, saham Amazon naik 2,2 persen menembus US$ 1.300 untuk pertama kalinya. Kemudian ditutup menjadi US$ 1,305.20.

Kenaikan saham bank juga dibantu peningkatan imbal hasil treasury setelah harga konsumen di AS pada Desember, membukukan kenaikan terbesar dalam 11 bulan, menandakan terjadinya kenaikan inflasi.

Volume perdagangan kali ini mencapai 6,88 miliar saham, di atas rata-rata 6,39 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

PT Kontak Perkasa Futures | Incar Dana Segar, Nusantara Infrastructure Lepas 5 Miliar Saham

Incar Dana Segar, Nusantara Infrastructure Lepas 5 Miliar SahamKontak Perkasa, Jakarta - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META), perusahaan bergerak di bidang infrastruktur akan melakukan penawaran umum terbatas (PUT) atau rights issue dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak-banyaknya 5 miliar saham dengan nilai nominal Rp 70 per saham.

Mengutip keterangan perseroan di keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/1/2018),perseroan akan menggunakan dana rights issue tersebut untuk biayai belanja modal dan keperluan modal kerja perseroan.

Liputan6.com, Jakarta – PT Nusantara Infrastructure Tbk (META), perusahaan bergerak di bidang infrastruktur akan melakukan penawaran umum terbatas (PUT) atau rights issue dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak-banyaknya 5 miliar saham dengan nilai nominal Rp 70 per saham.

Mengutip keterangan perseroan di keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/1/2018),perseroan akan menggunakan dana rights issue tersebut untuk biayai belanja modal dan keperluan modal kerja perseroan.

Grup Rajawali Lepas Saham Nusantara Infrastructure

Sebelumnya, Grup Rajawali melalui PT Hijau Makmur Sejahtera melepas kepemilikan sahamnya di PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) sebesar 21 persen atau sebanyak 3,2 miliar lembar saham kepada PT Matahari Kapital Indonesia pada Jumat 8 September 2017.

Pelepasan saham milik grup Rajawali dilakukan pada waktu tepat ketika pemerintah sedang mempercepat pembangunan sektor infrastruktur saat ini. Ini guna menunjang pertumbuhan ekonomi dan pemerataan akses infrastruktur kepada masyarakat di Indonesia. Adapun penjualan dilakukan sebesar Rp 270 per saham.

Direktur Pelaksana PT Rajawali Corpora Satrio Tjai menuturkan, keputusan melepas kepemilikan saham di Nusantara Infrastructure ini merupakan aksi pemegang saham dengan mempertimbangkan grup Rajawali selama ini hanya pemegang saham minoritas di Nusantara Infrastructure.

Grup Rajawali sendiri tidak menutup kemungkinan untuk kembali investasi di sektor infrastruktur apabila ada peluang. “Kami akan terus mengembangkan peluang usaha yang memenuhi kriteria bisnis internal grup Rajawali yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional dan stakeholders lainnya,” ujar Satrio, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu 13 September 2017.

Berdasarkan data RTI per 31 Agustus 2017, pemegang saham PT Nusantara Infrastructure Tbk antara lain Eage Infrastructure sebesar 22,32 persen, PT Hijau Makmur Sejahtera sebesar 21 persen dan publik sebesar 56,68 persen.

PT Kontak Perkasa Futures | Wika Gedung Prediksi Kontrak Baru Naik 28,4% Tahun Ini

wikaKontak Perkasa, Jakarta - PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) memprediksikan (forecast) pada 2018 akan memperoleh kontrak dihadapi sebesar Rp16,59 triliun atau naik sebesar 28,4% dari target tahun 2017.

Direktur Utama WIKA Gedung Nariman Prasetyo mengatakan bahwa kontrak yang dihadapi ini terdiri dari target kontrak baru tahun 2018 sebesar Rp7,83 triliun dan carry over tahun 2017 sebesar Rp8,76 triliun.

“Komposisi perolehan kontrak baru tahun 2018 direncanakan berasal dari Pemerintah 30%, BUMN 30%, dan Swasta 40%,” jelasnya, dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (8/1/2018).

Nariman menyebutkan bahwa komposisi tersebut menunjukkan bahwa WIKA Gedung memiliki pasar yang jelas dan independen karena porsi kontrak baru berasal dari eksternal, di luar dari proyek-proyek yang berasal dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) selaku Holding Company.

Sementara untuk penjualan (termasuk penjualan KSO), WIKA Gedung menargetkan Rp5,19 triliun atau naik 28,8% dari target tahun 2017 sebesar Rp4,03 triliun dengan target laba bersih tahun 2018 Rp394,5 miliar atau naik 38% dari target tahun 2017 sebesar Rp285,8 miliar dan untuk pengembangan bisnis di tahun 2018, perusahaan menggelontorkan belanja modal sebesar Rp667 miliar.

“Dengan dasar pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tumbuh 5,4% di tahun 2018 serta fokus pemerintahan Presiden Jokowi terhadap pembangunan infrastruktur di Tanah Air, termasuk dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di tahun 2019 yang mengharuskan setiap orang mengikuti BPJS Kesehatan secara penuh maka WIKA Gedung siap mengembangkan bisnis (investasi dan konsesi) terkait dengan perkembangan infrastruktur tersebut, seperti di bidang kebandarudaraan, mass transportation termasuk social infrastructure seperti rumah sakit dan pendidikan,” ucapnya.

Di lini backward, WIKA Gedung fokus pada bisnis pracetak gedung, modular, dan geotech. Di bisnis pracetak gedung, telah berdiri anak perusahaan PT WIKA Pracetak Gedung yang memproduksi precast gedung yang berhubungan langsung dengan pekerjaan arsitektur. Sementara pada bisnis modular, WIKA Gedung berencana melanjutkan Kerja Sama Operasi (KSO) yang telah dilakukan sebelumnya dengan mendirikan perusahaan patungan untuk memproduksi modular bersama. Kemudian, di bidang geotech WIKA Gedung akan mengakusisi perusahaan di sektor tersebut untuk mengembangkan bisnis konstruksi bangunan bawah/Basement.

Sementara itu, WIKA Gedung telah membukukan kontrak dihadapi (Order Book) hingga Desember 2017 sebesar Rp12,92 triliun. Order Book tersebut terdiri atas kontrak baru senilai Rp7,32 triliun dan kontrak bawaan (carry over) tahun lalu sebesar Rp5,6 triliun. Capaian kontrak baru tersebut belum termasuk penawaran terendah beberapa proyek yang telah diperoleh di akhir tahun 2017.

Ia menyebutkan, kontrak proyek kontruksi yang telah diperoleh sepanjang tahun 2017, seperti Masjid Raya Jawa Barat, Office Center Pelindo III Surabaya, Apartemen Arandra Residences Jakarta, Hotel & Resort Pullman Mandalika Lombok, Apartemen Grand Ostello Jatinangor, Rumah Sakit Pelabuhan Palembang, Tamansari Urbano Bekasi, Transmart Sidoarjo, Trans Studio Cibubur, Jakarta International Equestrian Park Pulomas Jakarta Timur, Gedung Mabes Polri Sisi Barat, Gedung Telkom Manyar, Apartemen Tamansari Iswara di Bekasi, Stasiun LRT Jakarta Koridor 1 Jakarta, Apartemen B Residence, Relokasi Rumah Dinas TNI AU–Halim, Transmart Jember, dan Pembangunan Rumah Susun Sewa Banten, Jabar, dan DKI Jakarta.

Sementara posisi arus kas hingga akhir tahun, perseroan tetap optimis membukukan arus kas positif. Tercatat arus kas operasi perseroan per November 2017  sebesar Rp192 miliar dan diproyeksikan per 31 Desember 2017 mencapai lebih dari Rp240 miliar.

“Kontribusi arus kas positif tersebut didukung oleh penerimaan kas yang berupa pencairan piutang serta pembayaran uang muka dari pelanggan,” tukasnya.

PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (WIKA Gedung), Nariman Prasetyo

PT kontak Perkasa FUtures | IHSG Dibuka Menguat Tipis, Sektor Tambang Jadi Pendorong

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Sektor Tambang Jadi PendorongKontak Perkasa, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ikuti bursa saham global. Akan tetapi, penguatan IHSG cenderung terbatas.

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Senin (8/1/2018), IHSG naik tipis 0,62 poin atau 0,01 persen ke posisi 6.354,36. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG naik tipis 6,60 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.360,70. Indeks saham LQ45 naik 0,16 persen ke posisi 1.081,73. Seluruh indeks acuan bergerak di zona hijau.

Ada sebanyak 117 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. Akan tetapi 28 saham melemah. di luar itu, 114 saham lainnya diam di tempat. Pada awal sesi, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.363,44 dan terendah 6.354,29.

iputan6.com, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ikuti bursa saham global. Akan tetapi, penguatan IHSG cenderung terbatas.

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Senin (8/1/2018), IHSG naik tipis 0,62 poin atau 0,01 persen ke posisi 6.354,36. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG naik tipis 6,60 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.360,70. Indeks saham LQ45 naik 0,16 persen ke posisi 1.081,73. Seluruh indeks acuan bergerak di zona hijau.

Ada sebanyak 117 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. Akan tetapi 28 saham melemah. di luar itu, 114 saham lainnya diam di tempat. Pada awal sesi, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.363,44 dan terendah 6.354,29.

Prediksi Analis

Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, IHSG cenderung memiliki pola pergerakan yang berada dalam rentang wajar.

Ia menilai, pengaruh fluktuasi harga komoditas masih akan terasa dalam pergerakan IHSG. Potensi penguatan IHSG pun cukup besar yang ditopang dari fundamental ekonomi yang masih cukup kuat.

“IHSG akan bergerak di kisaran 6.189-6.446 pada perdagangan saham Senin pekan ini,” ujar William.

Sementara itu, Analis PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menuturkan, IHSG akan bergerak terbatas dengan kisaran 6.290-6.375. “Secara teknikal, IHSG masih bergerak tertekan dan berada di level jenuh beli sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak terbatas,” kata Lanjar.