PT. KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR

Dollar AS Keok, Harga Minyak Ditutup Lebih Tinggi

1450467shutterstock-92642941780x390

PT. KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak pada Selasa (17/1/2017) di New York atau Rabu waktu Indonesia ditutup lebih tinggi.

Penyebabnya, yakni melemahnya dollar AS dan pernyataan dari Arab Saudi atas komitmen pemotongan produksi.

Seperti diketahui, nilai tukar dollar AS turun dalam enam pekan terakhir terhadap sejumlah mata uang dunia. Penurunan ini terjadi paska-terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

dollar AS yang melemah membuat harga minyak terlihat lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

“Pasar minyak sebenarnya lemah daripada yang terlihat, karena sedang disangga oleh dollar AS yang melemah,” kata managing partner di PSW Investasi di Woodland Park, New Jersey, Phil Davis, dikutip dari CNBC.com, Rabu (18/1/2017). Dia juga melihat, produksi AS juga akan naik dan kemungkinan mencapai 9,2 juta bph di akhir kuartal.

Patokan harga West Texas Intermediate berjangka ditutup naik 11 sen di level 52,48 dollar AS per barel. Sedangkan harga acuan Brent berjangka ditutup turun 38 sen menjadi level 55,48 dollar AS per barel.

Pedagang mengatakan, diskon Brent melebar lebih banyak hampir lima bulan setelah Trump mengkritik rencana Partai Republik atas pajak perusahaan. Pedagang juga mengatakan, minyak juga menurun sebelum Arab Saudi menyatakan kepatuhan terhadap komitmen OPEC.

Berdasarkan perjanjian tersebut, OPEC atau organisasi negara-negara eksportir minyak dan Rusia sepakat mengurangi produksi minyak hingga 1,8 juta barel per hari (bph) dalam enam bulan pertama tahun ini.

“Kuat dan meningkatnya produksi minyak dari Libya, Iran, Irak, dan Nigeria akan menghambat dampak penurunan OPEC dan Rusia,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Direktur Ritterbusch & Associates.

Dia juga melihat, produksi AS juga akan naik dan kemungkinan mencapai 9,2 juta bph di akhir kuartal.

“Pasar fokus pada kenaikan produksi AS yang hampir mencapai 9 juta bph, naik dari 8,5 juta bph per Juni 2016,” kata kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney, Michael McCarthy.

“Dengan minyak mentah AS di atas 50 dollar AS per barel, kita mendapat respons sisi penawaran yang mendorong produksi lebih tinggi,” pungkasnya.

 

PT. KONTAK PERKASA FUTURES

Sumber : bisniskeuangan.kompas