PT. KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR

IHSG Berpotensi Naik, Cermati 7 Saham Pilihan Ini

IHSG Berpotensi Naik, Cermati 7 Saham Pilihan Ini

Kontak Perkasa – Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Aliran dana investor asing diharapkan kembali masuk ke pasar saham sehingga bantu laju IHSG.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menuturkan, rilis data ekonomi menunjukkan kondisi ekonomi stabil. Hal itu jadi salah satu faktor penopang dari proses perjalanan kenaikan IHSG. Selain itu, aliran dana investor asing diharapkan kembali masuk.

“Hari ini IHSG berpotensi menguat dengan kisaran 5.911-6.048,” ujar William dalam ulasannya, Kamis (2/11/2017).

Sementara itu, Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi menuturkan IHSG akan konsolidasi di kisaran 5.997-6.050. Aksi ambil untung akan membayangi IHSG.

Sebelumnya pada penutupan perdagangan saham kemarin, IHSG naik 32,36 poin ke posisi 6.038. Penguatan IHSG mengikuti kenaikan bursa Asia. Tingkat inflasi secara tahunan di bawah harapan 3,5 persen dari 3,72 persen menjadi katalis positif.

Selain itu, sektor saham tambang mencatatkan penguatan terbesar 2,15 persen, perdagangan 1,16 persen dan keuangan 1,14 persen. Meski pun investor asing tercatat aksi jual sangat signifikan di awal bulan Rp 1,12 triliun usai sejumlah riset global menilai momentum IHSG sudah cukup tinggi.

Untuk pilihan saham, Lanjar memilih saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Ace Hardware Tbk (ACES).

Sedangkan William memilih saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI).

Investor Asing Jual Saham Rp 1 Triliun, IHSG Menguat

Sebelumnya laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan saham. Meski investor asing melakukan aksi jual, IHSG sentuh rekor baru tertinggi.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu 1 November 2017, IHSG naik 32,36 poin atau 0,54 persen ke posisi 6.038,14. Indeks saham LQ45 menguat 0,81 persen ke posisi 1.000,29. Ini merupakan level tertinggi indeks LQ45. Sebagian besar indeks saham acuan kompak menguat.

Ada sebanyak 163 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 182 saham melemah, sehingga menahan penguatan IHSG. 117 saham lainnya diam di tempat.

Transaksi perdagangan saham juga cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 302.903 kali dengan volume perdagangan saham 8,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 9 triliun. Investor asing melakukan aksi jual Rp 1,12 triliun di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran 13.571.

Di pasar negosiasi, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk mencapai transaksi Rp 1,5 triliun. Saham TLKM ditransaksikan turun 3,3 persen menjadi Rp 3.950. Total frekuensi perdagangan saham 23 kali.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau. Sektor saham tambang naik 2,17 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham keuangan naik 1,22 persen, sektor saham perdagangan menguat 1,16 persen. Sedangkan sektor saham industri dasar susut 1,07 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham MCAS naik 49,46 persen ke posisi Rp 2.070, saham LMSH melonjak 24,6 persen ke posisi Rp 785, dan saham SQMI naik 24,40 persen ke posisi Rp 520.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham ASJT melemah 25 persen ke posisi Rp 675, saham KONI turun 25 persen ke posisi Rp 540 dan saham FIRE tergelincir 15,34 persen ke posisi Rp 1.435 per saham.

Bursa Asia kompak menghijau. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 1,23 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 1,31 persen, indeks saham Jepang Nikkei mendaki 1,86 persen, dan catatkan penguatan terbesar.

Disusul indeks saham Shanghai menguat 0,52 persen, indeks saham Singapura naik 0,52 persen dan indeks saham Taiwan melonjak 0,12 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, pelaku pasar merespons positif rilis inflasi Oktober 2017 di kisaran 0,01 persen. Dengan inflasi Oktober 0,01 persen itu mendorong inflasi secara tahunan di kisaran 3,8 persen. Reza menuturkan, angka tersebut masih sesuai dengan target inflasi pemerintah empat persen.

“Jadi pemerintah mampu mengendalikan inflasi,” kata Reza saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, peringkat kemudahan berusaha Indonesia naik ke posisi 72 juga direspons positif pelaku pasar. Sentimen tersebut juga mendorong laju IHSG.