PT. KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR

^N225 14283.72-112.32 – -0.78% ^FTSE 6725.82+4.48 – +0.07% ^HSI 22775.971-30.609 – -0.13% ^KS112042.32-5.82 – -0.28% ^IXIC3940.129-3.232 – -0.08% ^JKSE 4555.492-35.046 – -0.76% ^JKLQ45 764.511-8.308 – -1.08% CLK12.NYM N/A – N/A PAL 1.07+0.0015 – +0.16% PLG 2.00-0.02 – -1.74% COCO 2.64-0.025 – -1.00% GCJ12.CMX N/A – N/A WP Stock Ticker



Kontak Perkasa Futures | Darmin: Pelaku Ekonomi Percaya dengan Pasar Modal

Darmin Pelaku Ekonomi Percaya dengan Pasar ModalKontak Perkasa, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan banyaknya perusahaan yang melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia memperlihatkan pelaku ekonomi percaya dengan lingkungan pasar modal Indonesia.

“Banyaknya perusahaan yang ‘go public’ menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal, sebagai alternatif pembiayaan selain bank,” kata Darmin seusai menghadiri acara penutupan perdagangan saham 2017 di Jakarta, Jumat (29/12/2017).

Darmin menjelaskan banyaknya perusahaan yang melakukan IPO itu secara tidak langsung ikut memberikan dampak positif kepada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada penutupan perdagangan tahun 2017 tercatat mencapai 6.355,65.

Ia mengharapkan jumlah perusahaan yang tercatat di bursa makin meningkat dan para investor tidak ragu untuk berinvestasi di 2018, yang disebut-sebut sebagai tahun politik, karena adanya penyelenggaraan pemilihan kepala daerah serentak pada pertengahan tahun.

“Kita harus meyakinkan mereka supaya tidak pesimis. Selalu yang dibawa-bawa ini tahun politik, jadi hati-hati. Padahal tidak ada apa-apa, karena didalam perpolitikan tidak ada sekutu yang strategis,” tambah Darmin.

Untuk itu, Darmin mengharapkan jumlah perusahaan yang melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada 2018 bisa mencapai 50-an, atau melebihi pencapaian pada 2017 yang tercatat sebanyak 37 perusahaan.

Menurut dia, banyaknya perusahaan yang tercatat dalam bursa saham berarti kondisi pasar modal suatu negara dalam keadaan baik dan kompetitif untuk mendukung kinerja serta mampu menjaga fundamental perekonomian nasional.

“Kalau cuma indeks naik, tapi yang ‘go public’ tidak naik, hanya harga saham saja yang naik. Tapi kalau indeks naik dan yang ‘go public’ juga banyak, maka sektor riil bisa ikut menikmati perkembangan dari pasar modal,” jelas Darmin.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menutup perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia yang tercatat pada posisi 6.355,65 pada akhir 2017 atau merupakan rekor tertinggi baru di sepanjang sejarah pasar modal domestik.

IHSG BEI ditutup menguat 41,60 poin atau 0,65 persen menjadi 6.355,65, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 9,04 poin (0,84 persen) menjadi 1.079,38.

Sejumlah capaian di sektor pasar modal Indonesia yaitu peningkatan jumlah investor sebesar 44 persen dalam dua tahun terakhir menjadi 1,12 juta investor dan diikuti kenaikan nilai investasi investor domestik mencapai Rp340 triliun pada tahun ini.

Pada 2017 juga ada 37 perusahaan tercatat yang melakukan pencatatan perdana saham di Bursa Efek Indonesia yang merupakan tertinggi di BEI pada 23 tahun terakhir serta yang terbanyak di antara negara-negara kawasan Asia Tenggara. (Ant)

PT Kontak Perkasa Futures | IHSG Kembali Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa di 6.314,04

IHSG Kembali Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa di 6.314,04Kontak Perkasa , Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis ini meski sempat tertekan di awal perdagangan. Kepercayaan investor menjadi pendorong penguatan IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (28/12/2017), IHSG menguat 36,88 poin atau 0,59 persen ke posisi 6.314,04. Indeks saham LQ45 menguat 0,69 persen ke posisi 1.070,34. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Ada sebanyak 175 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 169 saham melemah. Di luar itu, 126 saham lainnya diam di tempat.

Pada hari ini, IHSG sentuh level terendah 6.259,60 dan tertinggi 6.314,44. Total frekuensi perdagangan saham 291.201 kali dengan volume perdagangan 23,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 11,5 triliun.

Investor asing melakukan aksi jual Rp 580 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 13.549.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat. Sektor saham infrastruktur naik 1,41 persen dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham industri dasar mendaki 1,37 persen dan sektor saham keuangan melonjak 10,4 persen.

Saham-saham catatkan penguatan terbesar antara lain saham ARTA naik 25 persen ke posisi Rp 320, saham CAMP melonjak 24,79 persen menjadi Rp 1.485, dan saham JMAS menanjak 24,62 persen ke Rp 860.

Sedangkan saham yang tertekan antara lain saham TBMS turun 17,93 persen ke level Rp 755, saham MLPT tergelincir 17,20 persen menjadi Rp 650 dan saham TRUS susut 16,13 persen ke posisi 130.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menerangkan, IHSG terus menerus menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa karena adanya kombinasi dari semua unsur mulai dari tata kelola perusahaan atau eminten yang baik hingga ekonomi Indonesia yang stabil.

“Intinya stabilitas perekonomian, stabilitas politik lalu kepercayaan meningkat. Dibuktikan rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB dari Fitch,” jelas dia.

Tepis Isu Investor Asing Keluar

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menepis jika dana investor asing keluar dari pasar modal Indonesia. BEI mengklaim, investor asing tengah merealisasikan sebagian keuntungan di pasar modal Indonesia.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menerangkan, kepemilikan saham investor asing hingga 19 Desember 2017 mencapai Rp 1.912 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2016 mencapai Rp 1.691 triliun.

Keuntungan dari investasi saham di tahun 2017 totalnya Rp 261 triliun. Kemudian, investor asing mengambil keuntungan dari investasi sebesar Rp 40 triliun.

Jadi, lanjutnya, investor asing masih memiliki keuntungan di pasar modal sebesar Rp 221 triliun.

“Asing tidak keluar di Indonesia. Betul, sampai 19 Desember mereka itu Rp 40 triliun kata-katanya net sell sebenarnya kalau dilihat dulu setiap asing jual turun. Tapi market cap uang yang mereka pegang tadi Rp 1.691 triliun sekarang Rp 1.912 triliun. Ini jual beli mereka masih untung Rp 221 triliun yang belum direalisasi,” jelas dia di BEI Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Dia menegaskan, dengan kondisi tersebut investor asing tidak cabut dari Indonesia. Menurutnya, investor tersebut hanya merealisasikan sebagian keuntungan di pasar modal.

Tito menambahkan, itu hanya keuntungan di pasar saham. Realisasi tersebut belum memasukan keuntungan dari intrumen pasar modal lain seperti obligasi.

“Walaupun Rp 40 triliun masih untung Rp 221 triliun. Jadi mereka nggak kabur hanya merealisasikan sebagian keuntungan dana mereka di Indonesia,” tandas dia.

sumber : liputan6

Usai Cetak Rekor, IHSG Lanjutkan Penguatan

Usai Cetak Rekor, IHSG Lanjutkan Penguatan
Kontak Perkasa, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan saham Kamis pekan ini. Ini usai mencetak rekor penutupan kemarin.

Pada pembukaan perdagangan saham, Kamis (28/12/2017), IHSG naik 0,31 poin atau 0,10 persen ke posisi 6.283,4. Indeks saham LQ45 turun tipis 0,02 persen ke posisi 1.062,82. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Ada sebanyak 92 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 30 saham melemah. Di luar itu, 84 saham lainnya diam di tempat. Pada awal perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.285,25 dan terendah 6.279,14.

Liputan6.com, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan saham Kamis pekan ini. Ini usai mencetak rekor penutupan kemarin.

Pada pembukaan perdagangan saham, Kamis (28/12/2017), IHSG naik 0,31 poin atau 0,10 persen ke posisi 6.283,4. Indeks saham LQ45 turun tipis 0,02 persen ke posisi 1.062,82. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Ada sebanyak 92 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 30 saham melemah. Di luar itu, 84 saham lainnya diam di tempat. Pada awal perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.285,25 dan terendah 6.279,14.

Usai Tembus Rekor, Laju IHSG Dibayangi Aksi Ambil Untung

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung mendatar pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Ruang gerak IHSG cenderung terbatas karena dibayangi oleh aksi ambil untung investor.

Demikian disampaikan Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Kamis (28/12/2017).

“Diperkirakan IHSG akan bergerak mulai terbatas di sisa 2 hari perdagangan selanjutnya menjelang tutup tahun,” kata dia.

Lanjar menerangkan, laju IHSG cenderung terbatas setelah terus naik dan kembali menembus rekor. Kemarin, IHSG ditutup menguat 56,15 poin ke level 6.277,16.

“IHSG ditutup menguat 56,15 poin ke level tertinggi selanjutnya 6.277,16 dengan optimisme window dressing di akhir tahun,” jelas dia.

Penguatan IHSG didorong sektor industri dasar, keuangan, dan pertanian. Dia menjelaskan, produsen semen menguat setelah mencatatkan pelemahan sepanjang tahun ini.

“Sektor keuangan optimistis dipimpin saham BDMN seiring rencana pembelian MUFG kembali memanas. Sedangkan sektor pertanian disebabkan rebound-nya permintaan dan harga CPO di akhir tahun ini,” sambungnya.

Lebih lanjut, investor asing turut mencatatkan aksi beli bersih dengan nilai Rp 386,04 miliar.

Pada perdagangan saham kali ini, Lanjar memperkirakan IHSG berada pada support 6.220 dan resistance 6.285. Saham rekomendasi Lanjar antara lain PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Petrosea Tbk (PTRO).

Kontak Perkasa Futures | Kenaikan Fitch Rating, BEI: Berarti Ekonomi Kita Kondusif

Kenaikan Fitch Rating, BEI Berarti Ekonomi Kita KondusifKontak Perkasa, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, kembali mencatatkan rekor baru ke posisi 6.183,39 poin dalam penutupan. IHSG BEI ditutup menguat 73,90 poin atau 1,214 persen menjadi 6.183,39, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 17,24 poin (1,67 persen) menjadi 1.044,71.

Analis Indosurya Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan investor asing yang kembali melanjutkan aksi beli seiring dengan peringkat Indonesia yang naik menjadi BBB (triple B) dari sebelumnya BBB- (triple B minus) menjadi salah satu faktor yang mendorong IHSG kembali meningkat.

“Sentimen itu membuat IHSG masih terlihat memiliki kekuatan yang cukup besar hingga akhir 2017 ini,” katanya.

Berdasarkan data BEI pada Kamis (21/12), investor asing membukukan beli bersih atau “foreign net buy” mencapai Rp431,2 miliar. Dengan demikian, lanjut dia, di tengah sentimen yang positif itu maka jika terjadi koreksi merupakan hal wajar dan dapat dijadikan momentum akumulasi beli terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi besar dengan tujuan investasi jangka menengah-panjang.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat menambahkan kenaikan peringkat oleh Fitch Rating dapat dijadikan landasan bagi investor untuk menempatkan dana investasinya di Indonesia.

“Peringkat itu menjadi bukti ekonomi kita kondusif dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan,” katanya.

Kontak Perkasa Futures | BI Tunjuk KSEI Sebagai LPP Sertifikat Deposito yang Ditransaksikan di Pasar Uang

BI Tunjuk KSEI Sebagai LPP Sertifikat Deposito yang Ditransaksikan di Pasar UangKontak Perkasa, Jakarta – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Bank Indonesia (BI) terkait dengan Penatausahaan dan Penyelesaian Transaksi Sertifikat Deposito yang Ditransaksikan di Pasar Uang.

Penandatanganan PKS dilakukan oleh Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI Nanang Hendarsah dan Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi disaksikan oleh Gubernur BI Agus Martowardojo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, serta Direksi KSEI Syafruddin dan Supranoto Prajogo, dan Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia Hasan Fawzi.

Dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir, kondisi pasar uang di Indonesia masih didominasi oleh penerbitan surat berharga oleh BI dan transaksi pinjam-meminjam antarbank. Kondisi ini kurang efektif dalam mendukung pembentukan pasar uang yang dalam, likuid, dan efisien. Struktur pendanaan perbankan saat ini sebagian besar terdiri dari tabungan, giro, dan sertifikat deposito yang bersifat jangka pendek sehingga rentan terhadap penarikan sewaktu-waktu.

Sebagai salah satu upaya untuk menciptakan pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien, BI selaku otoritas pasar uang membutuhkan pengembangan instrumen pasar uang berupa sertifikat deposito yang dapat ditransaksikan oleh pelaku pasar. Tersedianya instrumen tersebut harus diimbangi dengan pengaturan pasar yang memperhatikan aspek tata kelola, mekanisme yang aman dan efisien, serta dengan didukung pengawasan yang efektif.

Dalam rangka peningkatan transaksi produk sertifikat deposito, terutama pada transaksi pasar sekunder, BI melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 19/2/PBI/2017 tentang Transaksi Sertifikat Deposito di Pasar Uang, menunjuk KSEI yang merupakan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) di pasar modal untuk melakukan penatausahaan dan penyelesaian transaksi sertifikat deposito di pasar uang.

Peraturan tersebut mulai berlaku pada 1 Juli 2017, sedangkan kewajiban pelaporan atas penatausahaan dan penyelesaian transaksi sertifikat deposito di pasar uang oleh KSEI akan berlaku efektif pada 1 Juli 2018. Sertifikat deposito yang dimaksud merupakan simpanan dalam bentuk deposito yang sertifikat bukti penyimpanannya dapat dipindahtangankan dan memiliki tenor paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan.

“Dengan ditunjuknya KSEI sebagai LPP sertifikat deposito di pasar uang dapat memberikan keuntungan bagi para pelaku pasar, antara lain dari sisi transparansi informasi. Seperti pada kerja sama KSEI dan BI untuk Surat Berharga dan Surat Berharga Negara yang diterbitkan oleh BI sebelumnya, maka KSEI akan menerbitkan nomor SID (Single Investor Identification) untuk sertifikat deposito di pasar uang sehingga kepemilikan atas instrumen tersebut dapat diketahui,” ungkap Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Rabu (20/12/2017).

Sebelum ditunjuk menjadi LPP sertifikat deposito yang ditransaksikan di pasar uang, sejak tahun 2002 KSEI telah menyelenggarakan kegiatan penatausahaan dan penyelesaian transaksi sertifikat deposito secara scripless di pasar modal berdasarkan Surat Bapepam Nomor S-1835/PM/2002 yang dipertegas dengan Peraturan OJK Nomor 10/POJK,03/2015 tentang Penerbitan Sertifikat Deposito oleh Bank.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengungkapkan apabila penandatangan Kerja Sama Penatausahaan dan Penyelesaian Transaksi Sertifikat Deposito di Pasar Uang antara KSEI dan BI merupakan langkah awal dari langkah panjang pendalaman pasar keuangan.

“Penatausahaan dan penyelesaian transaksi instrumen NCD (Negotiable Certificate of Deposit) di pasar uang ini diharapkan dapat diikuti juga dengan instrumen lainnya,” katanya.

Untuk mendukung kerja sama tersebut, pada 26 Oktober 2017 OJK telah mengeluarkan surat nomor S-124/PM.2/2017 perihal persetujuan KSEI sebagai LPP sertifikat deposito yang ditransaksikan di pasar uang, dan persetujuan atas draf perjanjian penatausahaan dan penyelesaian transaksi sertifikat deposito yang ditransaksikan di pasar uang antara Bank Indonesia dan KSEI.

Menanggapi kesepakatan antara BI dan KSEI, Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan bahwa sejak 2016, BI telah membangun departemen khusus untuk pengembangan pasar keuangan karena pasar uang yang stabil saja tidak cukup.

“Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia harus mempunyai pasar uang yang dalam untuk bisa menjadi sumber pendanaan bagi pembangunan Indonesia. Penunjukan KSEI ini berdasarkan pertimbangan bahwa selama ini KSEI telah menjadi LPP di pasar modal yang andal,” ujarnya.

Dengan ditunjuknya KSEI sebagai LPP sertifikat deposito di pasar uang, serta dukungan dan sinergi yang baik antara OJK dan BI, diharapkan pasar sertifikat deposito dapat semakin tumbuh dan berkembang sesuai harapan. Dengan demikian, ketahanan stabilitas sistem keuangan, efektivitas kebijakan moneter, maupun pendanaan untuk pembiayaan nasional juga semakin meningkat.