PT. KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR

Tag Archives: jadi

IHSG Dibuka Menguat, Sektor Tambang Jadi Pendorong

IHSG Dibuka Menguat, Sektor Tambang Jadi Pendorong

Kontak Perkasa – Jakarta – Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau pada pembukaan perdagangan saham di awal pekan ini.

Pada pembukaan perdagangan saham Jumat (27/10/2017) pukul 09.00 WIB, IHSG menguat 20,11 poin atau 0,39 persen ke posisi 5.999,30. Indeks saham LQ45 naik 0,45 persen ke posisi 989,35. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.

Ada 115 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau, sedangkan 43 saham melemah dan 89 saham lainnya diam di tempat. Pada awal sesi, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.001,55 dan terendah 5.986,71.

Total frekuensi perdagangan saham 15.682 kali dengan volume perdagangan 1,1 juta saham. Nilai transaksi harian saham Rp 726 miliar.

Investor asing melakukan aksi beli Rp 498 miliar di pasar keseluruhan. Dolar Amerika Serikat berada di posisi Rp 13.563.

Secara sektoral, sebagian saham menghijau dipimpin sektor pertambangan naik 1,31 persen. Sektor saham keuangan mendaki 0,51 persen dan sektor saham perdagangan naik 0,51 persen juga.

Saham-saham yang mencatat top gainers, antara lain saham MTWI menguat 24,82 persen ke posisi Rp 342 per saham, saham MDKI melonjak 25 persen ke posisi Rp 380 per saham, dan saham ZINC naik 21 persen ke posisi Rp 1.690 per saham.

Adapun saham-saham yang mencatat top losers, antara lain saham MLIA turun 6,67 persen ke posisi Rp 560 per saham, saham ASJT tergelincir 6,25 persen ke posisi Rp 600 per saham, dan saham SQMI susut 5,88 persen ke posisi Rp 480 per saham.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menuturkan, kondisi pola gerak IHSG sedang mempertahankan rentang konsolidasi yang telah bergeser naik usai tembus rekor tertinggi.

IHSG masih akan terkonsolidasi wajar dengan potensi penguatan yang lebih besar. Level support IHSG terlihat masih dapat bertahan dengan kuat.

Sementara itu, Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan IHSG akan kembali konsolidasi pada awal pekan ini. Ia menilai, adanya penilaian harga sejumlah saham sudah mahal dan realisasi sebagian kinerja keuangan emiten akan kembali dimanfaatkan untuk aksi ambil untung.

Dolar AS Menguat Bakal Jadi Hambatan Reli Harga Emas

Dolar AS Menguat Bakal Jadi Hambatan Reli Harga Emas

Kontak Perkasa – Jakarta – Harga emas berpeluang menguat pada pekan ini meski sejumlah analis prediksi ada tekanan untuk harga emas. Hal itu lantaran dolar Amerika Serikat (AS) makin perkasa.

Harga emas untuk pengiriman Desember ditransaksikan terakhir di kisaran US$ 1.272,40 per ounce atau turun satu persen dari minggu sebelumnya. Sedangkan harga perak ditransaksikan di kisaran US$ 16.745 per ounce atau merosot dua persen.

“Saya pikir level US$ 1.260 per ounce merepresentasikan level support untuk harga emas. Kami dapat melihat harga emas tertekan, namun sulit untuk bergerak ke bawah US$ 1.260 per ounce,” kata Bill Baruch, President of Blue Line Futures, seperti dikutip dari laman Kitco, Senin (30/10/2017).

Ia optimistis terhadap harga emas lantaran sentimen negatif yaitu perbaikan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve sudah diantisipasi pelaku pasar.

“Bila harga emas di bawah US$ 1.260 itu kesempatan untuk beli,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Riset Saxo Bank, Ole Hansen menuturkan, harga emas dapat kembali menguat asal berada di atas level terendah pada Oktober 2017. Harga emas akan tertekan jika berada di bawah level US$ 1.250 per ounce.

Namun, analis menilai penguatan dolar AS akan menjadi hambatan untuk harga emas. Apalagi indeks dolar AS berada di level tertinggi dalam empat bulan. Baruch memprediksi, indeks dolar AS akan berada di kisaran 96.

Oleh karena itu, sejumlah analis tidak optimistis untuk reli harga emas. Chris Vecchio, Analis Senior Dailyforex.com menuturkan, indeks dolar AS mencatatkan performa terbaik sepanjang tahun ini.

Penguatan dolar AS juga didukung dari produk domestik bruto AS tumbuh tiga persen pada kuartal III 2017. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS yang dapat mendukung kebijakan pengetatan moneter bank sentral AS. Sentimen itu juga dorong imbal hasil obligasi. Ia menambahkan, dolar AS akan reli sekitar tiga persen.

“Imbal hasil surat berharga bertenor dua tahun capai level tertinggi sejak 2008. Demikian juga imbal hasil surat berharga bertenor 10 tahun yang capai level tertinggi sejak Maret. Suku bunga bank sentral AS berpotensi naik, ini waktunya kurangi emas. Jika dolar AS dan imbal hasil surat berharga baik maka tidak ada alasan untuk pegang emas,” jelas dia.

Selanjutnya: Sentimen Bayangi Harga Emas

Kepala Riset London Capital Group Jasper Lawler menuturkan, harga emas akan tertekan dalam waktu dekat. Bila harga emas tertekan, hal itu jadi kesempatan untuk beli emas. Dalam jangka panjang, ia menilai ada faktor fundamental membuat investor bisa memegang emas sebagai aset portofolio investasi.

Lalu apa saja sentimen yang menjadi sorotan pada pekan ini? Salah satunya pemilihan pimpinan bank sentral AS. Pada awal pekan ini, Presiden AS Donald Trtum dapat mengumumkan nominasi pimpinan the Federal Reserve dalam empat tahun ke depan.

Dalam sebulan ini, dua calon yang menjadi sorotan dan spekulasi yaitu mantan pimpinan the Federal Reserve Jerome Powell dan Ekonom Stanford John Taylor.

Lawler menuturkan, bila nominasinya Taylor yang terpilih sebaiknya memegang emas. Hal itu mengingat Taylor sosok yang agresif.

Sedangkan Vecchio menilai, pasar melihat Powell merupakan kandidat yang dapat ciptakan kestabilan sehingga dia dapat menjaga kebijakan stabilitas moneter.

Untuk level harga emas yang dicermati, Baruch menuturkan, harga emas yang perlu diperhatikan di atas US$ 1.280 per ounce. Level harga emas itu dapat menetralisir sejumlah sentimen negatif. Ia menambahkan, jika harga emas di atas US$ 1.300 maka dapat mendorong investor kembali ke pasar.

Sedangkan level support untuk pengiriman Desember yang menjadi perhatian di posisi US$ 1.262,80 per ounce. Jika menembus level support itu, harga emas dapat berpotensi di kisaran US$ 1.250 per ounce.

Pada pekan ini, sentimen yang mendominasi tampaknya dari nominasi pemilihan pimpinan the Federal Reserve. Pasar menunggu Presiden Trump soal pimpinan the Federal Reserve. Pada pekan ini juga cenderung sepi sentimen baik dari data ekonomi.