PT. KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR

Tiongkok Terus Pangkas Kepemilikan Surat Utang Negara AS

kontak perkasa

Kontak perkasa – Tiongkok terus memangkas kepemilikan surat utang negara Amerika Serikat pada November tahun lalu, data terbaru dari Departemen Keuangan AS menunjukkan, Rabu (18/1/2017).

Tiongkok mengurangi kepemilikan surat utang AS 66,4 miliar dolar AS pada November, dengan total kepemilikan turun menjadi 1,0493 triliun dolar AS. Tiongkok telah memotong kepemilikan surat utang AS selama enam bulan berturut-turut.

Renminbi Tiongkok (RMB) atau yuan, telah mengalami penurunan tajam sejak Oktober tahun lalu, sehingga memicu kekhawatiran pasar. Tapi para ekonom mengesampingkan kemungkinan berlanjutnya penurunan tersebut pada 2017, dan percaya Tiongkok akan mampu menangani dampaknya, dalam pandangan surplus transaksi berjalan Tiongkok yang relatif besar saat ini dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Jepang, yang mengambilalih posisi Tiongkok sebagai pemegang terbesar dari surat utang AS pada Oktober, juga memangkas kepemilikannya 23,3 miliar dolar AS menjadi 1,1086 triliun dolar AS pada November.

Pada akhir November, kepemilikan asing secara keseluruhan atas surat utang AS turun menjadi 5,9443 triliun dolar AS dari 6,0404 triliun dolar AS pada Oktober.

Perekonomian dunia diproyeksikan tumbuh sebesar 2,7 persen pada 2017 dan 2,9 persen pada 2018, kata sebuah laporan PBB yang diluncurkan di New York pada Selasa (17/1/2017), menunjukkan bahwa ekonomi global belum bangkit dari periode pertumbuhan yang lambat.
Pemulihan moderat ini lebih merupakan indikasi stabilisasi ekonomi daripada sinyal kebangkitan yang kuat dan permintaan global yang berkelanjutan, kata laporan ekonomi tahunan PBB bertajuk “World Economic Situation and Prospects”.

PBB mencatat bahwa pada 2016, ekonomi dunia berkembang hanya 2,2 persen, laju pertumbuhan paling lambat sejak Resesi Besar pada 2009.

“Mendasari ekonomi global yang lesu adalah kecepatan lemah dari investasi global, berkurangnya pertumbuhan perdagangan dunia, lesunya pertumbuhan produktivitas dan tingkat utang yang tinggi,” kata laporan itu.

Laporan ini mencatat bahwa prospek ekonomi global tetap tunduk pada ketidakpastian signifikan dan risiko-risiko yang berpeluang mendorong penurunan yang berpotensi menghambat perkiraan pertumbuhan moderat untuk 2017-18.

Dikatakan, di antara ketidakpastian itu adalah kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, perubahan yang akan terjadi oleh pemerintahan baru Amerika Serikat untuk kebijakan perdagangan internasional serta Brexit, dan implikasi potensial untuk pergerakan bebas barang dan pekerja di Eropa.

Pada peluncuran laporan di Markas Besar PBB di New York, Lenni Montiel, asisten sekretaris jenderal PBB untuk pembangunan ekonomi, mengatakan dunia perlu “melipatgandakan upaya guna membawa ekonomi global kembali pada jalur pertumbuhan yang lebih kuat dan lebih inklusif serta menciptakan lingkungan ekonomi internasional yang kondusif untuk pembangunan berkelanjutan.” Dalam rangka untuk memulihkan ekonomi global ke lintasan pertumbuhan yang sehat dalam jangka menengah, dibutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih seimbang, kata laporan itu.

“Regulasi keuangan yang efektif dan insentif akan memobilisasi sumber daya dan mendorong investasi di bidang infrastruktur, pelayanan sosial dan teknologi hijau yang inklusif dan tangguh,” katanya.

Selain itu, kebijakan-kebijakan akan mendorong lingkungan bisnis yang dinamis selaras dengan pembangunan berkelanjutan, termasuk akses inklusif untuk keuangan, prosedur administrasi yang transparan dan kerangka regulasi yang efektif, tambahnya.

Laporan ini juga menyerukan kerja sama internasional yang lebih dalam di bidang-bidang seperti mempercepat transfer teknologi bersih, mendukung pembiayaan iklim, memperkuat kerja sama pajak internasional dan menanggulangi arus keuangan terlarang. (sumber: investing.com)

PT Kontak Perkasa